Running Posted

Kamis, 08 September 2011

Perubahan Iklim Di Tengah Krisis Negara Maju


Amerika Serikat (AS) sekarang bukan Amerika yang dulu lagi. Amerika kini lebih besar pasak daripada tiang. Amerika kini gali lubang tutup lubang untuk membiayai hidupnya. Tak heran apabila Standard & Poor’s (S&P) menurunkan peringkat utang AS dari AAA menjadi AA+. Secara ekonomi Amerika kini masih memiliki “power”, namun status “super” nya dipertanyakan. Bukan hanya Amerika Serikat, negara maju di Eropa juga mengalami krisis ekonomi. Irlandia dan Yunani merupakan dua korban pertama. Portugal, Italia, Spanyol bahkan Prancis beresiko mengalami nasib serupa.

Siapa yang Bayar?

Sumber pembiayaan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dapat dikatakan sulit diwujudkan tanpa bantuan negara maju. Selama ini negara maju memberikan dukungan pendanaan upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim melalui berbagai program yang diselenggarakan di negara berkembang. Krisis ekonomi yang dialami negara maju terutama krisis di Amerika Serikat menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana nasib agenda mitigasi dan adaptasi perubahan iklim global. Kasus Amerika agak unik. Amerika memang tidak meratifikasi Protokol Kyoto, namun Amerika memiliki peranan penting hampir pada tiap negosiasi Konferensi Para Pihak (COP) perubahan iklim. Rencana bantuan finansial miliaran dolar AS sulit terwujud apabila Barrack Obama dan Hillary Clinton tidak meng-endorse komitmen pemberian dana ini di Konferensi Para Pihak ke-15 (COP-15) di Kopenhagen yang diselenggarakan pada tahun 2009. Komitmen bantuan dana ini menjanjikan sumberdana yang berasal dari berbagai sumber seperti negara maju untuk penanganan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim sebesar30 miliar dolar AS untuk periode 2010-2012 dan sebesar 100 miliar dolar AS per tahun mulai tahun 2020.

Badai krisis mendatang disinyalir akan lebih besar daripadak risis global tahun 2008. Sangat mungkin apabila negara maju mengingkari komitmennya. Paling tidak terdapat tiga hal yang harus diwaspadai dan dapat terjadi. Pertama, apakah negara maju akan memenuhi pemberian dana sebesar 30 miliar dolar AS sebelum tahun 2012 berakhir? Kedua, apakah mulai tahun 2020 negara maju akan tetap berkomitmen untuk memberikan dana sebesar 100 miliar dolar AS per tahun? Ketiga, bagaimana dengan nasib kekosongan komitmen pemberian dana pada tahun 2013-2019? Komitmen bantuan finansial ini berpeluang untuk dilupakan di tengah ketidakpastian ekonomi negara maju dan tidak mengikatnya keputusan COP secara hukum.Jikapun tidak dilupakan maka nilainya akan berkurang walaupun jumlah uangnya tidak diubah.

Uang sebesar 100 miliar dolar AS hari ini tidak akan sama dengan 100 miliar dolar AS pada tahun 2020. Pertama, aliran ekonomi mayoritas negara di dunia yang menganut aliran Keynesian akan membuat inflasi tumbuh subur demi alasan pertumbuhan ekonomi. Kedua, Amerika melalui Federal Reserve terus mencetak dolar AS untuk menutup utangnya dan untuk membiayai hidupnya.Semakin banyak dolar AS yang beredar akan membuat nilai dolar AS melemah. Ketiga, dolar AS bisa saja digantikan sebagai cadangan mata uang dunia yang mengakibatkan dolar AS akan semakin terpuruk.

Perlu Alternatif

Setelah krisis global tahun 2008, sejumlah ekonom barat yang peduli terhadap isu perubahan iklim pernah mengatakan dampak buruk perubahan iklim harus diatasi walaupun kita sedang menghadapi krisis ekonomi. Alasannya sederhana. Dampak perubahan iklim akan memperburuk krisis ekonomi menjadi lebih dalam. Peta ekonomi dunia mulai bergeser dari Amerika ke China. Hal ini juga dapat terjadi dalam rezim hukum perubahan iklim internasional. Oleh karena itu China harus memainkan peranannya.

Pertama, China perlu dilibatkan sebagai donatur agenda mitigasi dan adaptasi perubahan iklim global. Perlu diwacanakan enggunaan mata uang yuan sebagai instrumen pemberian dana perubahan iklim mengingat melemahnya dolar AS dan tidak pastinya kekuatan mata uang Euro.

Kedua, perlu juga dipikirkan penggunaan emas dan perak sebagai instrumen yang aman dari inflasi untuk komitmen pemberian bantuan dana perubahan iklim. Emas dan perak telah ribuan tahun menjadi alat pembayaran yang sah. Bahkan sampai saat ini Konstitusi Amerika masih mengakui bahwa emas dan perak merupakan alat pembayaran yang sah. Perak memiliki peranan tambahan dibandingkan dengan emas di dalam agenda perubahan iklim. Perak dapat digunakan untuk menciptakan Solar Energy. Energi alternatif yang memanfaatkan panas sinar matahari untuk menciptakan energi. Sangat cocok untuk memanfaatkan iklim panas yang merupakan salah satu dampak utama perubahan iklim. Harga emas dan perak terus melambung dalam satu dekade terakhir ini dan diperkirakan akan terus naik selama melemahnya dolar Amerika dan sakitnya ekonomi negara maju. Komitmen pemberian bantuan dengan emas dan perak di “depan” lebih baik daripada komitmen yang diberikan “belakangan” demi menghindari harga yang semakin tinggi.

Perlu ada alternatif di tengah badai ekonomi negara maju. Krisis perubahan iklim merupakan krisis multi-dimensional dengan korban yang lebih dari sekadar korban krisis ekonomi. Alternatif ini perlu diwacanakan dalam perundingan perubahan iklim dunia selanjutnya di Durban, Afrika Selatan.

Penulis: HANDA S. ABIDIN, S.H., LL.M.
Pengamat Hukum Perubahan Iklim Internasional. Kandidat PhD dari University of Edinburgh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungannya, silahkan tinggalkan komentar!